Tampilkan postingan dengan label delusional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label delusional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Februari 2014

Apa yang Seharusnya Kuceritakan, Saat Aku Menceritakan Tentang Sebuah Cerita yang Tak Pernah Bisa Kuceritakan

Biar kuceritakan padamu sedikit hal, kawan. Tentang sesuatu yang sebetulnya menyedihkan, tapi di sisi lain juga bisa membuatmu menghela nafas dengan malas sambil bersendawa: "Ya Tuhan, begitu saja ternyata. Kukira ini cerita tentang apa."

Tetapi agar ceritaku tak seperti cerita yang menyedihkan pada umumnya, biarlah kubuka ceritaku kali ini dengan sedikit kalimat-kalimat narasi yang panjang dan lebar, namun tanpa unsur yang tinggi-tinggi. Sebab tentu saja, ini bukanlah rumus untuk menghitung volume sebuah kubus ataupun balok. Ini adalah sebuah cerita, tentang sebuah cerita yang tidak pernah bisa kuselesaikan, bahkan sampai dengan saat engkau selesai membaca kalimat ini, dari manapun kau membacanya.

Jumat, 01 November 2013

Untukmu, yang Tak Lama Lagi Bakal Pergi

- Sepucuk surat yang tak seperlunya ikut kamu kemasi ke dalam koper

Kudengar, tak lama lagi kamu bakal pergi dari sini. Meninggalkan kota ini. Meninggalkan meja, kursi, dan juga almari yang biasa menemanimu bekerja sehari-hari. Meninggalkan petak kosong tempat parkir di sebelah timur, yang biasa kamu tempati untuk memarkir motor kesayanganmu. Meninggalkan apa saja yang sudah kamu jalani selama bertahun-tahun di kota kecil ini. Meninggalkan kami semua di sini.

Orang-orang bilang, kamu bukannya sudah tak betah lagi berada di sini. Mereka bilang kamu pergi bukan karena ingin melarikan diri. Mereka bilang kamu bukannya mulai membenci kota yang tak terlalu ramai ini. Mereka bilang kamu pergi untuk mengejar. Mengejar harapan, juga mengejar kebahagiaan.

Tentu saja, itu adalah hal yang wajar untuk dimengerti. Kebahagiaan memang layak untuk diperjuangkan, pun untuk dikejar.

Minggu, 20 Oktober 2013

Tabungan

Seringkali,
rindu seperti puisi yang tiba-tiba berhenti
karena tak tahu bagaimana cara melanjutkan
atau harus menulis apa lagi

Sialnya,
jarak adalah saudagar yang sukar ditawar
sebab ia menyukai kesabaran
juga rasa sedih yang gemar berkelakar

Padahal,
tangis hanya boleh milik seorang ibu
lantaran pamit seorang anak
yang hendak pergi lagi
ke dalam pelukan semang yang remang

Pesan Beliau, "lebih baik uangmu kau tabung saja,"
tapi anaknya tidak pernah bilang iya.


~ 20 Okt 2013, menabung rindu sekali lagi.

Adios - Gale

Minggu, 22 September 2013

Pelukan Terakhir

- Di beranda ini, kicau-kicau tak kedengaran lagi.

Belakangan, saya tak lagi kerap menjamah lini masa. Bukan benar-benar tak pernah menjamah memang. Sesekali saya masih suka mengintip kicau-kicau yang bertebaran pada garis waktu paling dinamis di dalam dunia maya itu. Tetapi, hal itu cuma saya lakukan dalam tempo yang sekilas lalu. Juga dalam momentum yang, katakanlah, hanya sepenghabisan satu batang rokok saja. Sesekali belaka, juga tidak berlama-lama.

Padahal, jika diingat-ingat lagi, twitter pernah menjadi bagian yang tak terpisahkan daripada kehidupan. Ia telah menjelma jadi sebuah rutinitas. Sesuatu yang membuat kita enggan untuk meninggalkan, juga merasa bersalah apabila alpa menunaikan. Di dalam sesak bis kota, misalnya. Lalu pada guncangan mikrolet, di atas trotoar, di bangku taman dalam buaian angin. Juga di atas samudra, di tebing yang curam, sampai di atas meja makan walau cuma sejenak. Di mana pun berada, sulit rasanya untuk tidak menyempatkan diri melongok keadaan twitter. Membuka-buka tab mention, mengecek jumlah follower, atau sekedar menjentitkan jempol guna me-refresh linimasa supaya terbarui dengan kicau-kicau yang baru dirilis.

Minggu, 25 Agustus 2013

Di Bandara



- Waktu jalan (denganmu), aku tidak tahu apa nasib waktu

Sayangku, kamu tahu, malam ini seharusnya jadi malam yang biasa saja buat kita berdua. Kita tidak sedang berjalan lebih jauh, ke entah berantah, seperti dikisahkan dalam irama liris milik Banda Neira. Kita juga tidak sedang berdua menuju ruang hampa seperti lagu yang Efek Rumah Kaca biasa senandungkan. Dan kita bukan pula tengah berniat menjadi sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa, sebagaimana Frau memberi nama buat lagunya yang termahsyur itu.

Sama sekali tidak.

Selasa, 30 Juli 2013

Hari Raya, Pemain Sepakbola, dan Status Facebook Mereka


Hari Raya Idul Fitri akan segera tiba, dan seluruh dunia pun tengah bersiap menyambut kedatangannya. Tak terkecuali dengan para insan sepakbola yang budiman dan rajin berdandan. Mereka —baik yang menganut ajaran Islam maupun tidak— sama-sama antusias menyambut datangnya hari akbar yang maha suci ini.

Atas nama eksistensi di dunia maya, pencitraan diri yang mumpuni, serta toleransi antar umat beragama, tak sedikit dari mereka yang mem-posting antusiasme mereka dalam menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri, melalui akun Facebook mereka. Dan berikut ini adalah beberapa status facebook terkini dari para insan sepakbola dari seluruh penjuru semesta, sebagaimana saya kutip langsung dari sumbernya, tanpa tedeng aling-aling. Check it out!

Jumat, 01 Maret 2013

Niskala Akhir Pekan

( I )
pagi telah menelan
sebagian dari bekal kehidupan
tapi kotak-kotak kaca ini tetap saja benda mati
begitu juga aksara-angka di dalamnya

citra-suara masihlah semu
kecuali satu,

lindapnya isi kepala
serta kantung metafora
yang dibredel secara waskita

apa iya mau begitu saja,
sampai usiamu lewat purna?

( II )
barangkali,
pemuda itu sudah lama mati
setelah digantung berkalang hari

di tengah-tengah ruang hampa
di antara tanda tanya,
yang besar menganga

sampai akhirnya suara itu tiba

"aku tak sudi dijadikan robot!"
lalu tali gantungan itu merosot


~ 1 Mar 2013, menunggu datangnya akhir pekan, dan juga tanggal gajian.

Adios - Gale

Kamis, 28 Februari 2013

Dia yang Tidak Pernah Kelihatan Tersenyum


Dia memang tidak pernah kelihatan tersenyum. Entah kepada rekan, teman, apalagi yang bukan kenalan. Bahkan, saat sekali dua ia harus menyunggingkan sebilah senyum pun, ia tidak pernah benar-benar kelihatan sedang tersenyum. Garis bibirnya tetap horizontal. Datar. Tidak berpendar.

Kepada beberapa teman sudah kutanyakan, dan jawaban yang didapat tetaplah sama: dia memang tidak pernah kelihatan tersenyum.

Sekali waktu pernah kuamati dia, lamat-lamat membaur di antara tawa yang berderai di sekelilingnya. Tapi tetap saja, bibir itu masih bergeming di postulatnya. Tak berkenan menyungging, walau aku tahu giginya tidaklah kuning. Atau bahkan seandainya giginya benar-benar kuning, pastilah bukan itu alasan kenapa dia tak mau memperlihatkan senyumnya. Ada sesuatu yang membuatnya urung melepaskan. Sesuatu yang, barangkali, tak pernah diketahui oleh banyak orang musababnya. Termasuk aku.

Rabu, 06 Februari 2013

Tabik

- tentang penulis yang adil sejak dalam pikiran, dan sebuah penutup.

Halo, Bung.

Saya benar-benar tak tahu bagaimana harus memulai tulisan yang hendak saya tujukan kepada anda ini. Saban kali saya berusaha keras memikirkan kata-kata yang hendak saya susun sebagai pembuka, ah tidak, bahkan saat saya baru mulai merabakan jari-jari di atas tuts keyboard pada komputer jinjing butut milik saya ini, bulu kuduk saya tiba-tiba mengkirik, akal pikir saya mendadak buntu, dan tentu saja — ini yang paling membikin saya takut untuk menulis kepada anda, Bung — saya seketika merasa malu. Sangat malu, bahkan. Siapalah saya ini berani-beraninya membuat tulisan kepada anda, Bung, sang maestro sastra Indonesia. Tapi seperti yang pernah anda tulis sendiri, Bung, bahwasanya menulis adalah sebuah keberanian, maka saya pun memberanikan diri untuk menulis ini, meski saya bukanlah siapa-siapa.

Sabtu, 02 Februari 2013

Katakanlah, Kencan

"Barangkali kita memang telah dikutuk," kataku mengutuki nasib di suatu sore yang busuk.

Lalu kamu menyahut dari ujung yang berlainan, "Apa maksudmu dengan kutukan? Aku tak pernah barang sekalipun dirapal dengan kelaknatan."

"Mungkin bukan kamu. Tidak pernah kamu. Tapi aku," kataku kemudian meralat.

Lalu aku mengingatkanmu tentang bagaimana aku pernah hampir, katakanlah, mengajakmu berkencan.

***

Sore itu, atau hampir sore lebih tepatnya, adalah sore yang cukup cerah untuk sebuah kesepakatan yang sudah dikulminasi sejak jauh-jauh hari. Setelah berkali-kali kita tak pernah, katakanlah, benar-benar berkencan. Tetapi malah bergantian meminta maaf sebagai ekses dari urungnya kesepakan kita untuk, katakanlah, berkencan. Katakanlah itu sebagai kencan yang gagal. Oleh sebab satu dan lain hal, yang selalu kamu sebut sebagai konspirasi semesta. Dan aku tak pernah suka memakai kata itu.

Senin, 01 Oktober 2012

Sehabis Hujan


Hujan, bukanlah sahabat karib bagi kebahagiaan. Karenanya, hampir tidak ada satupun manusia di kolong langit ini, yang ingin merayakan hari ulang tahunnya di bawah gelontoran bulir-bulir hujan. Bahkan, dalam gerimis yang paling ringkih sekalipun.

Tapi nasib memang kesunyian milik masing-masing, dan seperti itulah bagaimana nasib menuntunku dalam perayaan hari kelahiranku kali ini. Menyandang kaos ala kadarnya dan celana mambo dekil, yang jadi makin tak enak dilihat karena basah kuyup habis tertempa guyuran hujan, aku terduduk nanar di pojokan halte bus sekitaran wilayah Pasar Rebo.

Selasa, 15 Mei 2012

Hey Nona

-tentang sang nona unmood, dan mantan-mantan yang cepat selesai

1.)   Ada beberapa hal di dunia ini yang sulit betul untuk dinalar dengan logika dan ilmu sehingga keberadaannya masih dibiarkan menjadi misteri sampai sekarang. Misalnya saja tentang bagaimana stone henge yang semrawut itu disebut mengagumkan? Lalu soal siapakah hipster yang berada di balik pembuatan macam-macam crop circle trendi di ladang-ladang gandum? Juga apakah benar mitos-mitos mengenai  keberadaan kerajaan setan bhatoegana yang berdiam di segitiga bermuda?… Ya, itu cuma diantaranya beberapa contoh saja, tapi ketahuilah, masih ada hal yang jauh lebih misteri sejak dalam pikiran ketimbang contoh-contoh di atas tadi. Maka bagaimana si nona ini bisa cepat betul untuk move on setelah kandasnya sebuah hubungan asmara untuk kemudian mengganti dengan sosok yang baru, membuat saya dengan suka rela, tanpa melakukan penalaran sekalipun, untuk menahbiskannya menjadi pemuncak dalam daftar “7 hal paling misterius di dunia versi on clinic the spot“. Forza nona unmood, sempre per noi!

Kamis, 01 Desember 2011

Melamun, Efek Rumah Kaca, dan Waktu-waktu yang Hilang

Sore sedang terdiam di beranda kesepian. Memandangi legit demi legit pohon-pohon beton yang tegak pada hamparan hiruk pikuk manusia sibuk. Pada akarnya yang menghujam bumi dalam-dalam, pohon-pohon itu berpijak. Tampak pongah, meski harus dijejaki ribuan pasang kaki di setiap lantai-lantainya yang mewah berbalut pualam. Jumawa dan gemerlap, arsitektur sudah berkembang pesat memang.
"Murung itu sungguh indah, melambatkan butir darah
Nikmatilah saja kegundahan ini, segala denyutnya yang merobek sepi." -
Melankolia

Rabu, 09 November 2011

Penasaran... yang dilanjutkan


Kalau boleh jujur, kawan, sudah lama sekali, bahkan semenjak Napoleon Bonaparte masih melahap bubur kanji bertabur serpihan kayu manis dengan disuapi oleh ibunya, saya sudah berangan-angan ingin bertatap muka dengan dia. Oh bukan, dia yang dimaksud di sini bukanlah Napoleon Bonaparte. Adalah melalui tulisan-tulisan pendek, tidak sependek otak kiri saya tentu, yang sering saya baca, entah yang bernama panggil sebagai novel maupun yang berjuluk sebagai cerpen, saya mengetahui ihwal jejak keberadaannya.

Dia ada disana, masih di pulau yang sama dengan tempat saya mengetik tulisan ini sekarang, Pulau Jawa. Lebih spesifik, berada pada wilayah teritorial Imperium Ngayogjokarto-Hadiningrat. Menyoal koordinat garis lintang dan bujur, saya tak paham. Kau carilah sendiri pakai Google-Maps yang mahasakti itu, jaman kan sudah modern.

Selasa, 06 September 2011

Hanya Batu dan Pisau Salju

Aku ingin saja jadi batu
batu apa saja itu
yang penting batu
batu...
B-A-T-U
batu peluru,
untuk dilempar ke kepalamu
yang sering acuh itu
atau batu kerikil kaku,
supaya merintangi langkahmu
lalu melukai telapak-telapak lembutmu
mungkin juga jadi patung batu,
yang bisa mengabaikan kehadiranmu
pura-pura tak melihatmu pun sudah tak perlu
ah, itu sulit sekali tentu
aku jauh lebih ingin jadi batu-batu yang bukan itu
jadi batu pondasimu,
untuk diletakkan salah satu harapanmu
yang membangun masa depanmu
jadi kerikil di halaman rumahmu pun aku mau,
supaya aku bisa melihatmu menyapu
atau saat kau menjemur baju
hmm, aku memang terlalu lugu
sebab batu apapun juga pasti takkan dianggapmu
karena cinta tidak berakhiran huruf "u"

-6 Sept 2011, belahan timur Jakarta, tidak ada salju-

Adios - Gale

Kamis, 14 Juli 2011

Semoga!


“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain”
Begitulah petikan kalimat yang kubaca dari sebuah buku berjudul “5cm” karangan Donny Dirghantoro beberapa waktu yang lalu. Terdengar klise dan simpel, tetapi pada praktiknya, tak semua orang telah memberikan manfaat bagi orang lain. Begitupun dengan aku, sudah lama tak pernah jadi sesuatu. Aku hanyalah penggembira, dari garda belakang.
Lalu akhirnya, sebulan terakhir ini, aku bisa merasakan bagaimana rasanya bermanfaat bagi orang lain. Tak melulu untuk hal yang besar-besar memang, tapi masa bodoh dengan itu, karena perasaan merasa berguna, sekecil apapun itu, akan memberi kepuasan tersendiri.
Meski itu cuma sesederhana memberi tahu di mana letak toilet, mengantar berkas-berkas ke lantai atas, mengetuk-ngetuk tuts keyboard hingga terdengar gaduhnya dari seberang sekat, atau membuka tumpukan amplop-amplop yang disegel rapat oleh pengirimnya. Iya, cuma sesederhana itu, tapi itu kan yang namanya bermanfaat itu??...
Esok adalah awal, awal dimana aku memulai jalan kembali kesana. Akan datang lagi waktu-waktu itu, dimana aku akan bisa (lebih) bermanfaat lagi. Semoga!
Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

Selasa, 28 Juni 2011

Hujan...


jalan berhenti…terhalang datangnya hujan ini
aku mencari…berlindung jauhkan basah diri
Petang ini aku mengerti kalau hujan itu bukan sahabat yang baik. Ia membuatku gagal pulang tepat waktu. Mungkin sebenarnya ia bermaksud baik dengan muncul pada sore hari. Dengan begitu ia hendak melunturkan penat-penat kami ini yang seharian bekerja dengan guyuran derasnya. Tapi kadang niat baik saja tidak cukup, belakangan malah antitesisnya yang kami harus peroleh.
kutunggu lama hingga hujan reda
menunggu lama hingga hujan reda
melamun lama hingga hujan reda
belum terdengar nada nada reda
Hujan menjauhkan jarak rumahku sore ini. Sangat besar, delapan kali lipat jauhnya dari yang biasa. Tapi ia juga membuatku delapan kali lebih bahagia ketika akhirnya aku menggapai pintu rumah. Dingin di badanku pergi begitu saja
akan kutemui wajah wajah asing tanah ini
ku akan pergi saat hujan reda
walaupun lama pasti reda juga
tangga pelangi akan segera tiba
Aku boleh dikata beruntung kali ini, karena esok adalah hari merah. Aku masih bisa merebah dalam lelah. Wahai hujan, lain kali jangan datang sore hari.

*latar musik: Koil - Lagu Hujan

Adios - Gale

Kamis, 09 Juni 2011

Rindu itu Sebuah Pena

Rindu itu adalah pena. Ia menggoreskan setiap ceritanya. Setahun yang lampau, dua malam yang lalu, atau mungkin kisah-kisah yang mana saja. Liukannya kadang indah hingga sanggup membuat kita sedikit tertawa. Atau malah garis-garisnya membentuk katarsis luka. Membuat kita menyadari harus melupanya. Dia telah berdua, bertiga, atau mungkin berlima, meski kita tak disana.

Rindu itu adalah pena. Ia kadang menggurat terlalu dalam di atas kertas tulisnya. Membuat kertasnya sobek menganga. Membuat tulisannya terhenti begitu saja. Kertasnya itu hati kita. Jahitan saja tak bisa menyembuhnya. Ia harus diganti dengan kertas yang baru, agar kembali sediakala.

Rindu itu adalah pena. Ia tak boleh jatuh ke tangan penulis yang bukan seharusnya. Ia harusnya dikembalikan ke tangan empunya. Mengakrabi kesendirian tangan kanannya. Menghangatkan otak kanannya. Agar tak melulu berfantasi ria.

Rindu itu adalah pena. Tak semua mampu menggunakannya. Ia bisa memilih sendiri tokoh utamanya. Meski kadang tak mampu menentukan episode akhirnya. Ia merdeka. Ia tak seperti Angelina atau Mariana, mungkin juga Helena.

Rindu itu adalah pena. Tintanya bisa habis tak bersisa. Karena sudah terlalu lama memakna. Setelahnya ia berhenti berkarya. Hentilah semua kisahnya.

Sabtu, 19 Maret 2011

senyum...

Aku selalu suka segala hal tentang kiasan.
Seperti bagaimana aku mengiaskan dirimu bagai sebuah "senyum"

Senyum yang apabila dipandang akan membuat orang yang melihatnya merasa tentram.
Senyum yang membagi kebahagiaan bagi orang yang melihatnya.
Senyum yang memancarkan aura positif bagi sekelilingnya.
Senyum yang menarik laksana kutub magnet.
Senyum yang membuat kemarahan mereda.
Senyum yang menimbulkan gairah.
Senyum yang tulus bukan rekayasa.
Senyum yang mempesona.

"Tersenyumlah, karena senyum adalah refleksi dari kebahagiaan :) "

Adios-Gale