- Setelah #7HariMenulis tak ada lagi
Waktu kecil, saya bukanlah anak yang kelampau sering diajak orangtuanya berwisata. Orangtua saya hanya sekali dua mengajak saya berwisata. Itu pun, harus cermat-cermat menghitung sisa kas keluarga dahulu, sebelum palu kepastian keberangkatan resmi diketuk. Sering saya bersungut kepada mereka meminta diajak mengunjungi pasar malam, taman ria, kebun binatang, atau sekedar kongkow-kongkow di taman puring —bukan pasar barang murahnya— ber-selo ria memandangi luapan air mancurnya, sembari menunggu matahari tergelincir ke arah barat. Tapi kedua orangtua saya lebih sering tetap bergeming. Dan berwisata pun menjadi sedikit garib bagi saya dan keluarga.
Paling banter, kalau nasib sedang mujur, biasanya kakak-kakak sepupu saya lah yang akan mengajak saya berwisata. Itu juga, lebih sering hanya berakhir dengan jajan-jajan "Happy Meal" ke restoran cepat saji bermaskot badut yang bernama Ronald. Atau yang paling sering, ditinggal sendiri di bagian komik Gramedia Blok M, sementara kakak-kakak sepupu saya asyik berbelanja, berkeliling segala rupa toko busana yang ada di sana. Beberapa jam setelahnya, barulah mereka akan datang menghampiri saya, dengan beberapa kresek hasil belanjaan mereka, untuk mengajak saya pulang.
