Beberapa waktu yang lalu saya pernah menuliskan, bahwa menikmati musik pop arus utama tanpa menghiraukan keberadaan Peterpan (sekarang Noah) dalam memetakan pergolakan yang telah, sedang, dan yang akan kejadian di dalamnya adalah sebuah kesalahan yang teramat besar. Barangkali saya kelampau berlebihan kala menuliskan hal tersebut, tapi barangkali juga tidak. Sebab kenyataannya, Ariel dan kawan-kawan memang, entah mengapa, selalu saja memperoleh jalan yang mulus untuk memeriahkan belantika musik pop Indonesia, lewat manuver-manuver yang mereka lakukan.
Bahkan meski sang frontman sempat tersandung skandal video mesum dan harus mendekam di balik bui selama dua tahun. Bahkan meski harus membuang nama Peterpan yang telah memberi mereka kebesaran dan ketenaran bertahun-tahun lamanya. Magis milik Ariel dan kawan-kawan, memang tak pernah luntur barang satu zarah sekalipun. Salah-salah, malah semakin mengkilap di mata fans-nya.
Segala muslihat yang dilakukan, antara lain lewat ekspos berlebihan awak infotainment jelang kebebasan sang vokalis, keluarnya buku biografi pertanda tandasnya nama lama Peterpan, serta gebrakan konser di 5 negara - 2 benua dalam rentang hanya 24 jam, adalah upaya glorifikasi yang benar-benar membuat kita tanpa sadar beriman dan dengan sangat khusyuk ikut menunggu-nunggu kembalinya band yang telah lama menghilang ini.








