Tampilkan postingan dengan label sisi lapangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sisi lapangan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 November 2012

Terpelajar Sejak Dalam Pikiran


Pramoedya Ananta Toer, maestro sastra Indonesia, pernah menyerukan dalam bukunya yang berjudul Bumi Manusia, bahwa manusia yang terpelajar sudah selayaknya berlaku adil sejak dalam pikiran dan  perbuatan, kepada siapapun tanpa terkecuali. Mengikuti perbuatan umum yang sudah lama salah kaprah, ataupun menjustifikasi manusia lain secara bias berdasarkan faktor-faktor yang tak materiil dengan pokok permasalahan, adalah perbuatan yang tak mencerminkan hal tersebut. Sebab yang baik harus tetap dinilai baik, dan yang salah harus tetap dikatakan salah.

Tapi pada kenyataannya tidak demikian. Tapi kenyataannya kebanyakan manusia memang suka begitu, tak peduli dia terpelajar atau tidak. Ambil contoh saja bagaimana PSSI menyikapi kasus penganiayaan yang menjerat salah satu punggawa timnas, Diego Michiels. Sesaat setelah jongeren yang dinaturalisasi dari Belanda untuk membela tim nasional itu dinyatakan sebagai tersangka, PSSI malah membikin langkah komedi dengan cuma memberikan denda sebesar Rp 500.000,00 tanpa hukuman skorsing apapun kepadanya. Entah atas tendensi apa PSSI melakukan hal tersebut, tapi yang jelas, sanksi yang diberikan kepada Diego itu jelas tidak mencermikan perilaku adil sejak dalam pikiran seperti yang dimaksud Pram.

Sabtu, 07 Juli 2012

Ode Buat Balotelli


Usai sudah hajatan besar publik sepakbola Eropa yang dihelat tiap empat tahun sekali itu. Spanyol, yang bergelar sebagai incumbent, sukses mempertahankan piala yang mereka gondol empat tahun lalu, setelah mengalahkan Italia dengan skor cukup telak, 4 – 0. Spanyol sukses mencetak sejarah sebagai tim pertama yang mampu meraih gelar jawara secara back-to-back, sementara Italia harus mengubur dalam-dalam impian mereka untuk meraih gelar Euro mereka yang kedua.

Di akhir laga, kita pun disuguhi dengan dua adegan yang bertolak belakang. Bagaimana lompatan girang pemain-pemain Spanyol di tribun pengalungan medali berbanding terbalik dengan mata berkaca-kaca dan langkah gontai para punggawa Gli Azzuri yang menyasikan dari tengah lapangan. 

Kamis, 12 April 2012

Newcastle United dan Praktik Moneyball


Musim ini performa Newcastle United benar-benar mengesankan. Sempat didakwa jadi salah satu kandidat tim yang akan masuk lubang degradasi akibat hengkangnya pemain-pemain penting semisal Joey Barton, Kevin Nolan dan juga Andy Carroll, The Magpies kini justru duduk gagah di posisi ke-5, unggul dua poin dari Chelsea plus hanya kalah produktivitas gol dari Tottenham Hotspur yang berada di posisi ke-4.

Strategi jitu mereka di bursa transfer ketika berhasil mendaratkan Demba Ba dan Yohan Cabaye di awal musim ini dengan dana tak lebih dari 4,4 juta pounds, yang juga disebut-sebut sebagai salah satu "the best transfer moves" dalam sejarah Liga Inggris, ditengarai jadi sebab musabab mencuatnya The Toon Army. Hal itu kemudian dilanjutkan dengan menggaet Papiss Demba Cisse dari Freiburg dengan nilai transfer yang konon hanya sebesar 9 juta pounds pada pertengahan musim ini. Nilai tersebut jelas saja membuat penjualan Andy Carroll senilai 35 juta pounds ke Liverpool pada Januari tahun lalu tak ubahnya menang lotere dari nomer tiket yang dipungut di pinggir jalan. Untung besar.

Senin, 20 Februari 2012

To Lin-finity, And Beyond!



Apa yang kita lakukan ketika tahu seseorang yang biasa disepelekan atau dianggap remeh tiba-tiba melakukan sesuatu yang spektakuler dan luar biasa? Bertingkah apatis dan tidak simpatik mungkin masih bisa dimaklumi bila sesuatu yang spektakuler itu cuma terjadi sekali-dua kali saja, tapi bagaimana kalau sesuatu yang luar biasa itu terjadi berkali-kali dalam kontinuitas yang konstan? Hmm, mari lontarkan pertanyaan tersebut kepada jutaan manusia yang menggandrungi bola basket, terutama kompetisi NBA, perihal melejitnya seseorang yang tadinya "bukan siapa-siapa" menjadi sosok "siapa lagi kalau bukan dia?". Ya, tidak salah lagi, ini adalah melulu soal Jeremy "Linsanity" Lin, point guard New York Knicks yang beberapa minggu belakangan menggemparkan jagad basket dunia.

Bagi kita yang lebih familiar dengan nama Jeremy Teti atau Jeremy Thomas, nama Jeremy Lin tentu bukanlah sebuah kelaziman. Wajar, karena bahkan hingga satu bulan yang lalu pun, nama Lin belum go public seperti sekarang ini, bahkan boleh dibilang sama sekali tidak terkenal. Jadi, siapa sih sebenarnya si Jeremy Lin ini?

Jumat, 17 Februari 2012

Menjadi Teman, Sejak Dalam Pikiran


kaulah yang bisa membuatku lepas tertawa di saat kita berbagi
kaulah yang bisa membuatku bahagia dan itu sangat berarti
Begitulah bunyi penggalan bait dari lagu milik Rocket Rockers yang mengudara di pemutar musik saya pagi ini. Liriknya dengan polos bertutur bagaimana keniscayaan seorang teman dalam mengisi momen-momen bahagia kita dengan membagi tawa, melebarkan senyuman kita atau sekedar berjabat tangan mengisyaratkan pemberian selamat. Sesederhana itu kah? mungkin iya, mungkin juga tidak.

Sering kali, perwujudan seorang teman jauh lebih gampang ditemui pada momen-momen bahagia kita, tapi berapa banyak sebenarnya jumlah teman yang masih mau menghampiri kita disaat kita tengah didera kesusahan atau mengalami musibah? Padahal sesungguhnya di saat-saat seperti itulah kita lebih membutuhkan kehadiran mereka, lebih daripada ketika mereka mengisi absen kehadiran di momen-momen bahagia kita. Maka mereka-mereka yang memiliki teman-teman yang masih mau menyempatkan diri untuk mengulurkan tangan ketika kawannya tengah diliputi kesusahan, niscaya adalah golongan orang-orang yang beruntung, dan Luis Suarez boleh jadi adalah salah satu diantara orang-orang yang beruntung tersebut.

Minggu, 05 Februari 2012

Masih Sama Seperti Dulu


Adagium populer sastra klasik yang berbunyi bahwa "Cinta itu buta" sepertinya memang benar adanya. Saya teringat dengan seorang kawan yang kerap berkeluh kesah kepada saya mengenai wanita yang sangat dicintainya. Ia sering meminta saran dari saya menyoal kedekatannya dengan sang primadonanya ini. Suatu ketika dia akan tampak sangat sumringah ketika bercerita tentang bagaimana usahanya menuai respon positif. Sebaliknya, aura kegusaran dan wajah lesu akan lebih dominan ketika ikhtiarnya tak begitu digubris pujaan hatinya. Sebuah hal yang memang lumrah dan wajar bagi mereka yang tengah kasmaran.

Perbedaannya hanyalah pada kasus kawan saya ini, ia belum pernah sekalipun bertatap muka dengan sang pujaan hatinya itu. Keduanya "hanya" saling mengenal melalui situs jejaring sosial (sebut saja facebook) dan tak sekalipun pernah bersua, entah karena sebab apa. Padahal, sudah hampir setahun kawan saya ini berhubungan dengan wanita pujaannya itu. Akan jadi sedikit ironis karena kawan saya ini langsung meyakini bahwa wanita pujaannya itu adalah pasangan yang terbaik baginya. Takdir yang telah digariskan oleh langit, begitulah mungkin gambaran dia di mata kawan saya itu.

Sabtu, 21 Januari 2012

Mengadili Ekspektasi


Orang-orang bijak sering berkata, "Ekspektasi orang lain, sesungguhnya adalah takaran paling ekuivalen atas potensi yang kita miliki dalam diri kita", sebuah pendapat yang dahulu kala amat sangat tidak saya yakini kebenarannya, meskipun pada kenyataannya memang ada benarnya juga. Sebab, sebagai pemilik diri saya sendiri secara pribadi, tentunya saya adalah orang paling tahu mengenai batas-batas kemampuan saya sendiri. Tahu apa orang-orang itu sehingga mereka berani melimpahkan sebuah ekspektasi yang, menurut pribadi saya, di luar kapabilitas saya, sehingga kemudian mereka dapat menuntut saya dengan pelbagai cerca ketika saya gagal memenuhinya.

Dahulu kala, saya sering beradu argumen dengan Ayah saya ketika prestasi saya di bangku SMP tengah jeblok tidak keruan. Ya, dibanding masa-masa digdaya saya di bangku Sekolah Dasar, dimana saya selalu keluar sebagai juara kelas, prestasi saya di masa seragam putih-biru memang bobrok luar biasa. Boro-boro meraih jawara kelas, saya lebih sering tersisih dari persaingan memperebutkan posisi 10 besar yang membuat kolom "mendapatkan peringkat ke: ....." pada rapor saya lebih sering melompong tak bertinta.

Minggu, 15 Januari 2012

Menikmati "Ruang Tunggu"


Menunggu adalah sesuatu yang membosankan sekaligus menyebalkan. Terlebih lagi apabila kedatangan mengenai yang ditunggu masih dalam area abu-abu alias belum jelas. Sialnya, saya sedang terjebak dalam keadaan seperti itu sekarang. Menunggu dalam ketidakpastian. Entah sampai kapan.

Setalah lulus dari pergulatan masa-masa kuliah yang boleh dikatakan cukup berat (ayolah, kalian pasti tahu definisi "berat" yang saya maksud), tentunya saya mengharapkan untuk bisa segera terjun ke dunia kerja yang akan membebaskan saya dari beberapa perbuatan merepotkan orang tua saya, yah setidaknya mereka tak perlu lagi memberi saya uang jajan jika saya sudah bekerja. Akan tetapi keadaan yang terjadi sungguh berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Alih-alih segera mendapatkan pekerjaan, saya justru harus masuk dahulu ke dalam aula bernama "ruang tunggu", sebagai rangkaian prosesi sebelum saya ditahbiskan sebagai pegawai, nantinya.

Menyebalkan memang, padahal sesungguhnya saya ini bukanlah orang yang gemar apalagi ahli dalam hal tunggu-menunggu. Beberapa kali saya merasa jengah juga ketika cuma bisa berdiam duduk sembari menanti-nanti pintu di ujung lorong sana supaya terbuka, lalu muncullah orang yang akan memanggil nama saya, sebagai pertanda bahwa giliran saya untuk "menunjukan kebolehan" telah tiba. Mungkin begitu juga yang dirasakan Carlos Tevez ketika di awal-awal musim ini lebih sering diparkir di bangku cadangan, alih-alih menghiasi daftar starting line-up Manchester City dan berjibaku di tengah lapangan bersama rekan-rekannya.

Selasa, 10 Januari 2012

Diego Michiels, Pelanduk Sepakbola Indonesia


Hidup adalah melulu soal pilihan, pun begitu yang terjadi dalam dunia sepakbola. Setiap entitas di dalamnya diberi macam-macam opsi, untuk kemudian berhak memilih salah satunya, yang diyakininya sebagai yang paling baik. Sesederhana itulah yang juga sedang dilakukan seorang Diego Michiels, pemuda keturunan Belanda yang memilih jadi Warga Negara Indonesia demi untuk mengenakan seragam kebesaran tim nasional dengan lambang garuda di dada sebelah kiri.

Pilihannya untuk mengundurkan diri sekaligus membatalkan kontraknya dengan Pelita Jaya secara sepihak, untuk kemudian menyeberang ke klub Liga (yang mengaku) Profesional bikinan PSSI sejatinya adalah tindakan yang mencederai nilai-nilai luhur sportifitas dan profesionalisme secara telak. Tentunya apabila tindakan Diego itu dilakukan bukan di ranah sepakbola Indonesia, dimana dualisi dan perpecahan sedang menjadi tren, dapat dipastikan bahwa Diego terancam sanksi mahaberat, entah dari klub, federasi sepakbola, atau bahkan dari FIFA sekalipun.