Barangkali sudah jadi tradisi bagi Persija Jakarta untuk selalu bermasalah dalam soal non teknis saban menjelang musim bergulir, setidaknya jika kita merunut dua atau tiga tahun ke belakang. Jika di tahun-tahun sebelumnya tim kebanggaan ibukota ini selalu dirongrong problem dualisme tim dengan Jakarta FC 1928 — kesebelasan antah berantah yang tiba-tiba saja mengklaim diri sebagai Persija yang paling hakiki, sebelum akhirnya divonis palsu dengan dimenangkannya Persija Jakarta versi Ferry Paulus lewat proses pengadilan — untuk tahun ini, isu non teknis yang muncul tak kalah pelik : boikot oleh pemain.
Tampilkan postingan dengan label tribune views. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tribune views. Tampilkan semua postingan
Minggu, 27 Januari 2013
Tribune View : Macan Mulai Bergigi, Persija Jakarta 1 - 0 PSPS Pekanbaru (Indonesian Super League)
Barangkali sudah jadi tradisi bagi Persija Jakarta untuk selalu bermasalah dalam soal non teknis saban menjelang musim bergulir, setidaknya jika kita merunut dua atau tiga tahun ke belakang. Jika di tahun-tahun sebelumnya tim kebanggaan ibukota ini selalu dirongrong problem dualisme tim dengan Jakarta FC 1928 — kesebelasan antah berantah yang tiba-tiba saja mengklaim diri sebagai Persija yang paling hakiki, sebelum akhirnya divonis palsu dengan dimenangkannya Persija Jakarta versi Ferry Paulus lewat proses pengadilan — untuk tahun ini, isu non teknis yang muncul tak kalah pelik : boikot oleh pemain.
Senin, 16 April 2012
Tribune View : Lagi-lagi Bepe , Persija Jakarta 1 - 0 PSMS Medan (Indonesian Super League)
Sore itu, Sabtu 14 April 2012, saya akhirnya kembali berkesempatan mengunjungi "rumah ibadah agung" kebanggaan seluruh masyarakat sepakbola Indonesia: Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kali ini bukan dalam rangka untuk menonton pertandingan timnas seperti yang saya tulis di kolom Tribune Views sebelum-sebelumnya. Hari itu saya datang untuk mendukung tim idola saya, Macan Kemayoran Persija Jakarta, yang akan menjalani partai perdana mereka di putaran kedua Indonesia Super League.
Kalau diingat-ingat lagi, sudah cukup lama sekali sejak kali terakhir saya menonton langsung pertandingan Persija di Gelora Bung Karno. Pertandingan terakhir Persija yang berhasil saya hadiri adalah ketika Persija berjumpa Persijap Jepara pada 29 Januari 2011. Kalau dihitung-hitung, ternyata itu sudah lebih dari setahun yang lampau! (Wow, suporter macam apa saya ini, bisa-bisanya absen datang ke stadion sampai setahun lebih, hahaha). Oleh karenanya, saya pun membulatkan tekad untuk hadir ke Senayan guna mengurangi rasa bersalah tadi sekaligus mengobati kerinduan pada hiruk pikuk football matchday dan atmosfer stadion ala The Jakmania. Kebetulan juga, lawan yang akan dihadapi Persija kali ini adalah salah satu musuh klasiknya: PSMS Medan. Jadilah keinginan untuk hadir langsung di stadion semakin menggelegak di dada.
Selasa, 15 November 2011
Tribune View: Iluminasi Garuda Muda, Indonesia 3 - 1 Thailand (SEA Games 2011)
Hari Minggu kemarin, 13 November 2011, saya berkesempatan mencicipi aroma kompetisi olahraga se-Asia Tenggara, SEA GAMES 2011, melalui salah satu cabang olahraganya, yaitu sepakbola. Cukup lama absen menduduki seat lapuk tribun stadion karena pelbagai alasan, maka hari itu saya akhirnya kembali ke "rumah ibadah" yang sangat dicintai ratusan juta jama'ahnya dari Sabang sampai Merauke, Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Kalau boleh meminjam istilah milik John Bale, hubungan antara suporter dengan sebuah stadion dinamainya dengan istilah topophilia, dari kata topos yang berarti tempat, dan philia yang berarti cinta. Saya, dan juga puluhan ribu manusia yang memadati GBK malam itu, pasti paham betul akan kebenaran istilah itu. Karena memang menonton langsung di stadion, punya level kesenangan yang jauh lebih seru tinimbang melalui televisi atau nonbar sekalipun. Apalagi kalau tim yang kita dukung menang, hormon endorfin yang diproduksi tubuh bisa meningkat dua kali lipat dari biasanya. Berlaku juga untuk sebaliknya, kalau tim yang kita dukung kalah, nyeseknya juga bakal lebih menusuk tinimbang cinta ditolak :p *apeu*.
Dengan semangat bambu runcing, bersama tiga orang Wonogiri tulen, yaitu: Bonaventura Setiaji, militan Arsenal yang gemar melahap soal-soal akuntansi; lalu Andri Wijanarko, calon valuer yang juga penggemar The Virgin; dan terakhir mas Budy Soemardjo, Milanisti asal Jatisrono; berangkatlah kami berempat dari Bintaro menuju ke Senayan, dengan dikawal gerimis ringan.
Hari itu Indonesia akan berhadapan dengan salah satu rivalnya, Negeri gajah putih, Thailand. Menilik rekor pertemuan, Indonesia tak pernah menang kala bersua Thailand di ajang SEA Games dalam lima pertandingan terakhir. Sebagai suporter, yang bisa dilakukan adalah memberi dukungan langsung ke stadion sembari berharap rentetan catatan buruk itu akan berakhir.
Kalau boleh meminjam istilah milik John Bale, hubungan antara suporter dengan sebuah stadion dinamainya dengan istilah topophilia, dari kata topos yang berarti tempat, dan philia yang berarti cinta. Saya, dan juga puluhan ribu manusia yang memadati GBK malam itu, pasti paham betul akan kebenaran istilah itu. Karena memang menonton langsung di stadion, punya level kesenangan yang jauh lebih seru tinimbang melalui televisi atau nonbar sekalipun. Apalagi kalau tim yang kita dukung menang, hormon endorfin yang diproduksi tubuh bisa meningkat dua kali lipat dari biasanya. Berlaku juga untuk sebaliknya, kalau tim yang kita dukung kalah, nyeseknya juga bakal lebih menusuk tinimbang cinta ditolak :p *apeu*.
| Halo, lama tak bersua |
Hari itu Indonesia akan berhadapan dengan salah satu rivalnya, Negeri gajah putih, Thailand. Menilik rekor pertemuan, Indonesia tak pernah menang kala bersua Thailand di ajang SEA Games dalam lima pertandingan terakhir. Sebagai suporter, yang bisa dilakukan adalah memberi dukungan langsung ke stadion sembari berharap rentetan catatan buruk itu akan berakhir.
Kamis, 28 Juli 2011
Tribune View : Maju Terus Garuda!, Indonesia 4 - 3 Turkmenistan (PPD 2014)
Malam ini saya kembali jadi saksi betapa Indonesia itu, yang katanya Andi Bachtiar dalam salah satu tulisannya, adalah negerinya orang-orang gila. Iya, kami memang gila, dan kami justru bangga disebut gila. Bangsa ini memang sangat gila, kepada sebuah olahraga yang bernama sepakbola.
Malam ini, saya, untuk kesekian kalinya dibuat merinding ketika National Anthem kita, Indonesia Raya, bergaung dengan sangat dahsyat di Stadion Gelora Bung Karno. Ini yang namanya Nasionalisme itu, kami semua berteriak lantang tanpa malu-malu melantunkan bait demi bait, tak peduli merdu atau tidak. Sesuatu yang dulunya tak pernah saya temui ketika upacara bendera di sekolah. Kami memang tidak saling mengenal satu sama lain, tapi toh peduli setan dengan hal tersebut, kami datang untuk negara ini, Indonesia.Malam ini pula, saya dan mungkin juga seluruh rakyat Indonesia, mendadak lupa dengan siapa itu Nazarrudin, siapa itu Gayus Tambunan, sengketa-sengketa mafia hukum, kasus-kasus korupsi, dan juga permasalahan hidup kami selama 90 menit. Kami larut dalam sebuah pesta rakyat.
Maka ketika sundulan Christian Gonzales melesat masuk ke sudut gawang, pecahlah euforia dan histeria. Senyum-senyum kegembiraan berhamburan, kami berpelukan, mengepalkan tangan, meloncat kegirangan serta membunyikan terompet keras-keras. Semuanya gegap gempita. Kemudian berturut-turut ketika El-Loco dan Mohammad Nasuha kembali menambah angka pada papan skor, euforia itu makin menggila. Kami bungah, kami merasa bangga sebagai sebuah bangsa. Indonesia jumawa dengan keunggulan sementara 3-0.Lalu ketika lawan mulai mengejar ketertinggalan lewar sebuah gol, kami teriakkan lagi yell-yell kami. Kami kibaskan lagi syal-syal kami. Kami tabuh lagi genderang-genderang kami. Kami tiup lagi terompet-terompet kami. Dengan lebih kencang, lebih keras, dan lebih membahana. Tujuannya jelas, membangkitkan lagi kepak sayap Garuda-garuda Merah Putih. Berhasil, Muhammad Ridwan mencatatkan namanya di scoresheet, 4-1 Indonesia kembali memimpin jauh.
Langganan:
Postingan (Atom)
