Adagium populer sastra klasik yang berbunyi bahwa "Cinta itu buta" sepertinya memang benar adanya. Saya teringat dengan seorang kawan yang kerap berkeluh kesah kepada saya mengenai wanita yang sangat dicintainya. Ia sering meminta saran dari saya menyoal kedekatannya dengan sang primadonanya ini. Suatu ketika dia akan tampak sangat sumringah ketika bercerita tentang bagaimana usahanya menuai respon positif. Sebaliknya, aura kegusaran dan wajah lesu akan lebih dominan ketika ikhtiarnya tak begitu digubris pujaan hatinya. Sebuah hal yang memang lumrah dan wajar bagi mereka yang tengah kasmaran.
Perbedaannya hanyalah pada kasus kawan saya ini, ia belum pernah sekalipun bertatap muka dengan sang pujaan hatinya itu. Keduanya "hanya" saling mengenal melalui situs jejaring sosial (sebut saja facebook) dan tak sekalipun pernah bersua, entah karena sebab apa. Padahal, sudah hampir setahun kawan saya ini berhubungan dengan wanita pujaannya itu. Akan jadi sedikit ironis karena kawan saya ini langsung meyakini bahwa wanita pujaannya itu adalah pasangan yang terbaik baginya. Takdir yang telah digariskan oleh langit, begitulah mungkin gambaran dia di mata kawan saya itu.





