Sabtu, 31 Maret 2012

Arus Balik


Wah, tau-tau saja, sekarang bulan sudah berganti menjadi Maret rupanya -- bahkan sudah hampir berganti lagi menjadi April. Hmm, memang sudah lama sekali kelihatannya, sejak kali terakhir saya mau bersusah payah mengetahui tanggal di kalender buluk milik saya sedang menunjuk ke angka berapa dan hari apa. Lagipula -- waktu itu-- buat apa? tak ada manfaatnya buat saya.

Ya, sebagai seorang pengangguran ad-interim selama beberapa bulan ke belakang, dan ke belakang-belakangnya lagi, memang tak begitu banyak untungnya buat saya mengetahui tentang kedua hal tersebut. Semua hari nyaris tak ada bedanya buat saya. Mau itu Kamis pahing, Selasa pon, ataupun Minggu legi, saya tetap bisa bangun tidur sesiang mungkin, memilih-milih pakaian yang mau saya pakai secara anarkis, mandi hanya satu kali sehari, mengamati pergerakan chart lagu yang sedang booming di acara "dahsyat" setiap pagi, ataupun begadang sampai pagi buta untuk menikmati gol demi gol yang terjadi pada pelbagai siaran sepakbola dini hari. Semuanya bebas. Merdeka.

Tapi semua itu berubah. Saya kini menjadi sangat dependen pada sebuah kalender, meskipun ia bukan pacar saya. Boleh dibilang, apa yang akan menimpa saya pada sebuah hari, sekitar 58,39%-nya telah ter-pre determined oleh tanggal dan hari yang ditunjuk oleh kalender.

Senin, 20 Februari 2012

To Lin-finity, And Beyond!



Apa yang kita lakukan ketika tahu seseorang yang biasa disepelekan atau dianggap remeh tiba-tiba melakukan sesuatu yang spektakuler dan luar biasa? Bertingkah apatis dan tidak simpatik mungkin masih bisa dimaklumi bila sesuatu yang spektakuler itu cuma terjadi sekali-dua kali saja, tapi bagaimana kalau sesuatu yang luar biasa itu terjadi berkali-kali dalam kontinuitas yang konstan? Hmm, mari lontarkan pertanyaan tersebut kepada jutaan manusia yang menggandrungi bola basket, terutama kompetisi NBA, perihal melejitnya seseorang yang tadinya "bukan siapa-siapa" menjadi sosok "siapa lagi kalau bukan dia?". Ya, tidak salah lagi, ini adalah melulu soal Jeremy "Linsanity" Lin, point guard New York Knicks yang beberapa minggu belakangan menggemparkan jagad basket dunia.

Bagi kita yang lebih familiar dengan nama Jeremy Teti atau Jeremy Thomas, nama Jeremy Lin tentu bukanlah sebuah kelaziman. Wajar, karena bahkan hingga satu bulan yang lalu pun, nama Lin belum go public seperti sekarang ini, bahkan boleh dibilang sama sekali tidak terkenal. Jadi, siapa sih sebenarnya si Jeremy Lin ini?

Jumat, 17 Februari 2012

Menjadi Teman, Sejak Dalam Pikiran


kaulah yang bisa membuatku lepas tertawa di saat kita berbagi
kaulah yang bisa membuatku bahagia dan itu sangat berarti
Begitulah bunyi penggalan bait dari lagu milik Rocket Rockers yang mengudara di pemutar musik saya pagi ini. Liriknya dengan polos bertutur bagaimana keniscayaan seorang teman dalam mengisi momen-momen bahagia kita dengan membagi tawa, melebarkan senyuman kita atau sekedar berjabat tangan mengisyaratkan pemberian selamat. Sesederhana itu kah? mungkin iya, mungkin juga tidak.

Sering kali, perwujudan seorang teman jauh lebih gampang ditemui pada momen-momen bahagia kita, tapi berapa banyak sebenarnya jumlah teman yang masih mau menghampiri kita disaat kita tengah didera kesusahan atau mengalami musibah? Padahal sesungguhnya di saat-saat seperti itulah kita lebih membutuhkan kehadiran mereka, lebih daripada ketika mereka mengisi absen kehadiran di momen-momen bahagia kita. Maka mereka-mereka yang memiliki teman-teman yang masih mau menyempatkan diri untuk mengulurkan tangan ketika kawannya tengah diliputi kesusahan, niscaya adalah golongan orang-orang yang beruntung, dan Luis Suarez boleh jadi adalah salah satu diantara orang-orang yang beruntung tersebut.

Minggu, 05 Februari 2012

Masih Sama Seperti Dulu


Adagium populer sastra klasik yang berbunyi bahwa "Cinta itu buta" sepertinya memang benar adanya. Saya teringat dengan seorang kawan yang kerap berkeluh kesah kepada saya mengenai wanita yang sangat dicintainya. Ia sering meminta saran dari saya menyoal kedekatannya dengan sang primadonanya ini. Suatu ketika dia akan tampak sangat sumringah ketika bercerita tentang bagaimana usahanya menuai respon positif. Sebaliknya, aura kegusaran dan wajah lesu akan lebih dominan ketika ikhtiarnya tak begitu digubris pujaan hatinya. Sebuah hal yang memang lumrah dan wajar bagi mereka yang tengah kasmaran.

Perbedaannya hanyalah pada kasus kawan saya ini, ia belum pernah sekalipun bertatap muka dengan sang pujaan hatinya itu. Keduanya "hanya" saling mengenal melalui situs jejaring sosial (sebut saja facebook) dan tak sekalipun pernah bersua, entah karena sebab apa. Padahal, sudah hampir setahun kawan saya ini berhubungan dengan wanita pujaannya itu. Akan jadi sedikit ironis karena kawan saya ini langsung meyakini bahwa wanita pujaannya itu adalah pasangan yang terbaik baginya. Takdir yang telah digariskan oleh langit, begitulah mungkin gambaran dia di mata kawan saya itu.

Sabtu, 21 Januari 2012

Mengadili Ekspektasi


Orang-orang bijak sering berkata, "Ekspektasi orang lain, sesungguhnya adalah takaran paling ekuivalen atas potensi yang kita miliki dalam diri kita", sebuah pendapat yang dahulu kala amat sangat tidak saya yakini kebenarannya, meskipun pada kenyataannya memang ada benarnya juga. Sebab, sebagai pemilik diri saya sendiri secara pribadi, tentunya saya adalah orang paling tahu mengenai batas-batas kemampuan saya sendiri. Tahu apa orang-orang itu sehingga mereka berani melimpahkan sebuah ekspektasi yang, menurut pribadi saya, di luar kapabilitas saya, sehingga kemudian mereka dapat menuntut saya dengan pelbagai cerca ketika saya gagal memenuhinya.

Dahulu kala, saya sering beradu argumen dengan Ayah saya ketika prestasi saya di bangku SMP tengah jeblok tidak keruan. Ya, dibanding masa-masa digdaya saya di bangku Sekolah Dasar, dimana saya selalu keluar sebagai juara kelas, prestasi saya di masa seragam putih-biru memang bobrok luar biasa. Boro-boro meraih jawara kelas, saya lebih sering tersisih dari persaingan memperebutkan posisi 10 besar yang membuat kolom "mendapatkan peringkat ke: ....." pada rapor saya lebih sering melompong tak bertinta.

Rabu, 18 Januari 2012

Ah, Baru Dua Tahun...


Tepat hari ini, blog saya yang dipenuhi tulisan-tulisan absurd doang-only-thok bin kamseupay ini akhirnya mengalami pertambahan usia menjadi 2 tahun. Sebenarnya, tujuan awal saya membikin blog ini sih cuman-hanya-just buat nulis-nulis iseng saja (baca: menyampah). Kalaupun ada yang mampir dan membaca, apalagi sampai ninggalin komentar, ya itu berarti membuktikan bahwa setan itu memang benar-benar ada, dan misi mereka menjerumuskan anak cucu Adam betul-betul mereka laksanakan, hahaha.

Saya ingat waktu pertama kali hendak menulis di blog ini, belum-belum saya sudah bingung memikirkan mau pakai kata ganti orang pertama apa nantinya di blog ini. Sebagai orang Javanese tulen, meskipun sempat beberapa tahun hidup di Jakarta pada masa orde baru, saya pada waktu itu sudah tidak terbiasa lagi memakai kata "gue", atau "guweh", atau "gw", atau bahkan "9uw3h" sebagai kata ganti orang pertama. Namanya juga nggak terbiasa, meskipun kebanyakan blogger memilih untuk menggunakan kata "gue" buat kata ganti orang pertama di blognya, saya nggak terpengaruh-keukeuh-ngeyel (baiklah saya mulai agak ter-influence gaya menulis Madame Kamseupay -____-') buat nggak menggunakan kata "gue" sebagai kata ganti orang pertama di blog ini, apalagi memakai "9uw3h". Terkhusus untuk yang terakhir, itu tentu saja sangat tidak bagus buat pencitraan saya, pffft.