Minggu, 22 September 2013

Pelukan Terakhir

- Di beranda ini, kicau-kicau tak kedengaran lagi.

Belakangan, saya tak lagi kerap menjamah lini masa. Bukan benar-benar tak pernah menjamah memang. Sesekali saya masih suka mengintip kicau-kicau yang bertebaran pada garis waktu paling dinamis di dalam dunia maya itu. Tetapi, hal itu cuma saya lakukan dalam tempo yang sekilas lalu. Juga dalam momentum yang, katakanlah, hanya sepenghabisan satu batang rokok saja. Sesekali belaka, juga tidak berlama-lama.

Padahal, jika diingat-ingat lagi, twitter pernah menjadi bagian yang tak terpisahkan daripada kehidupan. Ia telah menjelma jadi sebuah rutinitas. Sesuatu yang membuat kita enggan untuk meninggalkan, juga merasa bersalah apabila alpa menunaikan. Di dalam sesak bis kota, misalnya. Lalu pada guncangan mikrolet, di atas trotoar, di bangku taman dalam buaian angin. Juga di atas samudra, di tebing yang curam, sampai di atas meja makan walau cuma sejenak. Di mana pun berada, sulit rasanya untuk tidak menyempatkan diri melongok keadaan twitter. Membuka-buka tab mention, mengecek jumlah follower, atau sekedar menjentitkan jempol guna me-refresh linimasa supaya terbarui dengan kicau-kicau yang baru dirilis.

Minggu, 25 Agustus 2013

Di Bandara



- Waktu jalan (denganmu), aku tidak tahu apa nasib waktu

Sayangku, kamu tahu, malam ini seharusnya jadi malam yang biasa saja buat kita berdua. Kita tidak sedang berjalan lebih jauh, ke entah berantah, seperti dikisahkan dalam irama liris milik Banda Neira. Kita juga tidak sedang berdua menuju ruang hampa seperti lagu yang Efek Rumah Kaca biasa senandungkan. Dan kita bukan pula tengah berniat menjadi sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa, sebagaimana Frau memberi nama buat lagunya yang termahsyur itu.

Sama sekali tidak.

Selasa, 30 Juli 2013

Hari Raya, Pemain Sepakbola, dan Status Facebook Mereka


Hari Raya Idul Fitri akan segera tiba, dan seluruh dunia pun tengah bersiap menyambut kedatangannya. Tak terkecuali dengan para insan sepakbola yang budiman dan rajin berdandan. Mereka —baik yang menganut ajaran Islam maupun tidak— sama-sama antusias menyambut datangnya hari akbar yang maha suci ini.

Atas nama eksistensi di dunia maya, pencitraan diri yang mumpuni, serta toleransi antar umat beragama, tak sedikit dari mereka yang mem-posting antusiasme mereka dalam menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri, melalui akun Facebook mereka. Dan berikut ini adalah beberapa status facebook terkini dari para insan sepakbola dari seluruh penjuru semesta, sebagaimana saya kutip langsung dari sumbernya, tanpa tedeng aling-aling. Check it out!

Sabtu, 27 Juli 2013

Tiga Bulan : (bukan) Sebuah Ode

Hidup memang senantiasa berubah. Ia bukalah bus Transjakarta yang melaju statis dalam lintasan koridornya yang linear. Kadang-kadang, ia berubah secara pelan-pelan, lamat-lamat, secuil barang secuil. Tapi tidak jarang juga ia berganti rupa secara mendadak, seketika, dan tiba-tiba. Jauh lebih instan daripada perubahan wujud Power Rangers, ataupun status relationship Aurel Hermansyah.

Karena itulah, teruntuk jenis transisi kehidupan yang disebut terakhir itu, saya pikir, setiap manusia yang beruntung mengalaminya, pasti bakal merasakan kegamangan yang penuh seluruh ketika menjalani pelbagai macam distorsi dan perbedaan kehidupan yang terpampang di hadapannya. Tak perlu jauh-jauh bertanya kepada kerabat maupun handai taulan perihal bagaimana rasanya bersemuka dengan hal tersebut. Sebab saya, belum lama ini mengalaminya.

***

Tiga bulan yang lalu, saya mungkin tak pernah berpikir akan berada di tempat saya berada —tempat saya mengetik tulisan ini— sekarang. Ah, jangankan memikirkan, membayangkannya pun saya tak kuasa.

Jumat, 01 Maret 2013

Niskala Akhir Pekan

( I )
pagi telah menelan
sebagian dari bekal kehidupan
tapi kotak-kotak kaca ini tetap saja benda mati
begitu juga aksara-angka di dalamnya

citra-suara masihlah semu
kecuali satu,

lindapnya isi kepala
serta kantung metafora
yang dibredel secara waskita

apa iya mau begitu saja,
sampai usiamu lewat purna?

( II )
barangkali,
pemuda itu sudah lama mati
setelah digantung berkalang hari

di tengah-tengah ruang hampa
di antara tanda tanya,
yang besar menganga

sampai akhirnya suara itu tiba

"aku tak sudi dijadikan robot!"
lalu tali gantungan itu merosot


~ 1 Mar 2013, menunggu datangnya akhir pekan, dan juga tanggal gajian.

Adios - Gale

Kamis, 28 Februari 2013

Dia yang Tidak Pernah Kelihatan Tersenyum


Dia memang tidak pernah kelihatan tersenyum. Entah kepada rekan, teman, apalagi yang bukan kenalan. Bahkan, saat sekali dua ia harus menyunggingkan sebilah senyum pun, ia tidak pernah benar-benar kelihatan sedang tersenyum. Garis bibirnya tetap horizontal. Datar. Tidak berpendar.

Kepada beberapa teman sudah kutanyakan, dan jawaban yang didapat tetaplah sama: dia memang tidak pernah kelihatan tersenyum.

Sekali waktu pernah kuamati dia, lamat-lamat membaur di antara tawa yang berderai di sekelilingnya. Tapi tetap saja, bibir itu masih bergeming di postulatnya. Tak berkenan menyungging, walau aku tahu giginya tidaklah kuning. Atau bahkan seandainya giginya benar-benar kuning, pastilah bukan itu alasan kenapa dia tak mau memperlihatkan senyumnya. Ada sesuatu yang membuatnya urung melepaskan. Sesuatu yang, barangkali, tak pernah diketahui oleh banyak orang musababnya. Termasuk aku.