Selasa, 30 Juli 2013

Hari Raya, Pemain Sepakbola, dan Status Facebook Mereka


Hari Raya Idul Fitri akan segera tiba, dan seluruh dunia pun tengah bersiap menyambut kedatangannya. Tak terkecuali dengan para insan sepakbola yang budiman dan rajin berdandan. Mereka —baik yang menganut ajaran Islam maupun tidak— sama-sama antusias menyambut datangnya hari akbar yang maha suci ini.

Atas nama eksistensi di dunia maya, pencitraan diri yang mumpuni, serta toleransi antar umat beragama, tak sedikit dari mereka yang mem-posting antusiasme mereka dalam menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri, melalui akun Facebook mereka. Dan berikut ini adalah beberapa status facebook terkini dari para insan sepakbola dari seluruh penjuru semesta, sebagaimana saya kutip langsung dari sumbernya, tanpa tedeng aling-aling. Check it out!

Sabtu, 27 Juli 2013

Tiga Bulan : (bukan) Sebuah Ode

Hidup memang senantiasa berubah. Ia bukalah bus Transjakarta yang melaju statis dalam lintasan koridornya yang linear. Kadang-kadang, ia berubah secara pelan-pelan, lamat-lamat, secuil barang secuil. Tapi tidak jarang juga ia berganti rupa secara mendadak, seketika, dan tiba-tiba. Jauh lebih instan daripada perubahan wujud Power Rangers, ataupun status relationship Aurel Hermansyah.

Karena itulah, teruntuk jenis transisi kehidupan yang disebut terakhir itu, saya pikir, setiap manusia yang beruntung mengalaminya, pasti bakal merasakan kegamangan yang penuh seluruh ketika menjalani pelbagai macam distorsi dan perbedaan kehidupan yang terpampang di hadapannya. Tak perlu jauh-jauh bertanya kepada kerabat maupun handai taulan perihal bagaimana rasanya bersemuka dengan hal tersebut. Sebab saya, belum lama ini mengalaminya.

***

Tiga bulan yang lalu, saya mungkin tak pernah berpikir akan berada di tempat saya berada —tempat saya mengetik tulisan ini— sekarang. Ah, jangankan memikirkan, membayangkannya pun saya tak kuasa.

Jumat, 01 Maret 2013

Niskala Akhir Pekan

( I )
pagi telah menelan
sebagian dari bekal kehidupan
tapi kotak-kotak kaca ini tetap saja benda mati
begitu juga aksara-angka di dalamnya

citra-suara masihlah semu
kecuali satu,

lindapnya isi kepala
serta kantung metafora
yang dibredel secara waskita

apa iya mau begitu saja,
sampai usiamu lewat purna?

( II )
barangkali,
pemuda itu sudah lama mati
setelah digantung berkalang hari

di tengah-tengah ruang hampa
di antara tanda tanya,
yang besar menganga

sampai akhirnya suara itu tiba

"aku tak sudi dijadikan robot!"
lalu tali gantungan itu merosot


~ 1 Mar 2013, menunggu datangnya akhir pekan, dan juga tanggal gajian.

Adios - Gale

Kamis, 28 Februari 2013

Dia yang Tidak Pernah Kelihatan Tersenyum


Dia memang tidak pernah kelihatan tersenyum. Entah kepada rekan, teman, apalagi yang bukan kenalan. Bahkan, saat sekali dua ia harus menyunggingkan sebilah senyum pun, ia tidak pernah benar-benar kelihatan sedang tersenyum. Garis bibirnya tetap horizontal. Datar. Tidak berpendar.

Kepada beberapa teman sudah kutanyakan, dan jawaban yang didapat tetaplah sama: dia memang tidak pernah kelihatan tersenyum.

Sekali waktu pernah kuamati dia, lamat-lamat membaur di antara tawa yang berderai di sekelilingnya. Tapi tetap saja, bibir itu masih bergeming di postulatnya. Tak berkenan menyungging, walau aku tahu giginya tidaklah kuning. Atau bahkan seandainya giginya benar-benar kuning, pastilah bukan itu alasan kenapa dia tak mau memperlihatkan senyumnya. Ada sesuatu yang membuatnya urung melepaskan. Sesuatu yang, barangkali, tak pernah diketahui oleh banyak orang musababnya. Termasuk aku.

Senin, 18 Februari 2013

Berwisata

- Setelah #7HariMenulis tak ada lagi

Waktu kecil, saya bukanlah anak yang kelampau sering diajak orangtuanya berwisata. Orangtua saya hanya sekali dua mengajak saya berwisata. Itu pun, harus cermat-cermat menghitung sisa kas keluarga dahulu, sebelum palu kepastian keberangkatan resmi diketuk. Sering saya bersungut kepada mereka meminta diajak mengunjungi pasar malam, taman ria, kebun binatang, atau sekedar kongkow-kongkow di taman puring —bukan pasar barang murahnya— ber-selo ria memandangi luapan air mancurnya, sembari menunggu matahari tergelincir ke arah barat. Tapi kedua orangtua saya lebih sering tetap bergeming. Dan berwisata pun menjadi sedikit garib bagi saya dan keluarga.

Paling banter, kalau nasib sedang mujur, biasanya kakak-kakak sepupu saya lah yang akan mengajak saya berwisata. Itu juga, lebih sering hanya berakhir dengan jajan-jajan "Happy Meal" ke restoran cepat saji bermaskot badut yang bernama Ronald. Atau yang paling sering, ditinggal sendiri di bagian komik Gramedia Blok M, sementara kakak-kakak sepupu saya asyik berbelanja, berkeliling segala rupa toko busana yang ada di sana. Beberapa jam setelahnya, barulah mereka akan datang menghampiri saya, dengan beberapa kresek hasil belanjaan mereka, untuk mengajak saya pulang.

Rabu, 06 Februari 2013

Tabik

- tentang penulis yang adil sejak dalam pikiran, dan sebuah penutup.

Halo, Bung.

Saya benar-benar tak tahu bagaimana harus memulai tulisan yang hendak saya tujukan kepada anda ini. Saban kali saya berusaha keras memikirkan kata-kata yang hendak saya susun sebagai pembuka, ah tidak, bahkan saat saya baru mulai merabakan jari-jari di atas tuts keyboard pada komputer jinjing butut milik saya ini, bulu kuduk saya tiba-tiba mengkirik, akal pikir saya mendadak buntu, dan tentu saja — ini yang paling membikin saya takut untuk menulis kepada anda, Bung — saya seketika merasa malu. Sangat malu, bahkan. Siapalah saya ini berani-beraninya membuat tulisan kepada anda, Bung, sang maestro sastra Indonesia. Tapi seperti yang pernah anda tulis sendiri, Bung, bahwasanya menulis adalah sebuah keberanian, maka saya pun memberanikan diri untuk menulis ini, meski saya bukanlah siapa-siapa.