Jumat, 01 November 2013

Untukmu, yang Tak Lama Lagi Bakal Pergi

- Sepucuk surat yang tak seperlunya ikut kamu kemasi ke dalam koper

Kudengar, tak lama lagi kamu bakal pergi dari sini. Meninggalkan kota ini. Meninggalkan meja, kursi, dan juga almari yang biasa menemanimu bekerja sehari-hari. Meninggalkan petak kosong tempat parkir di sebelah timur, yang biasa kamu tempati untuk memarkir motor kesayanganmu. Meninggalkan apa saja yang sudah kamu jalani selama bertahun-tahun di kota kecil ini. Meninggalkan kami semua di sini.

Orang-orang bilang, kamu bukannya sudah tak betah lagi berada di sini. Mereka bilang kamu pergi bukan karena ingin melarikan diri. Mereka bilang kamu bukannya mulai membenci kota yang tak terlalu ramai ini. Mereka bilang kamu pergi untuk mengejar. Mengejar harapan, juga mengejar kebahagiaan.

Tentu saja, itu adalah hal yang wajar untuk dimengerti. Kebahagiaan memang layak untuk diperjuangkan, pun untuk dikejar.

Minggu, 20 Oktober 2013

Tabungan

Seringkali,
rindu seperti puisi yang tiba-tiba berhenti
karena tak tahu bagaimana cara melanjutkan
atau harus menulis apa lagi

Sialnya,
jarak adalah saudagar yang sukar ditawar
sebab ia menyukai kesabaran
juga rasa sedih yang gemar berkelakar

Padahal,
tangis hanya boleh milik seorang ibu
lantaran pamit seorang anak
yang hendak pergi lagi
ke dalam pelukan semang yang remang

Pesan Beliau, "lebih baik uangmu kau tabung saja,"
tapi anaknya tidak pernah bilang iya.


~ 20 Okt 2013, menabung rindu sekali lagi.

Adios - Gale

Minggu, 22 September 2013

Pelukan Terakhir

- Di beranda ini, kicau-kicau tak kedengaran lagi.

Belakangan, saya tak lagi kerap menjamah lini masa. Bukan benar-benar tak pernah menjamah memang. Sesekali saya masih suka mengintip kicau-kicau yang bertebaran pada garis waktu paling dinamis di dalam dunia maya itu. Tetapi, hal itu cuma saya lakukan dalam tempo yang sekilas lalu. Juga dalam momentum yang, katakanlah, hanya sepenghabisan satu batang rokok saja. Sesekali belaka, juga tidak berlama-lama.

Padahal, jika diingat-ingat lagi, twitter pernah menjadi bagian yang tak terpisahkan daripada kehidupan. Ia telah menjelma jadi sebuah rutinitas. Sesuatu yang membuat kita enggan untuk meninggalkan, juga merasa bersalah apabila alpa menunaikan. Di dalam sesak bis kota, misalnya. Lalu pada guncangan mikrolet, di atas trotoar, di bangku taman dalam buaian angin. Juga di atas samudra, di tebing yang curam, sampai di atas meja makan walau cuma sejenak. Di mana pun berada, sulit rasanya untuk tidak menyempatkan diri melongok keadaan twitter. Membuka-buka tab mention, mengecek jumlah follower, atau sekedar menjentitkan jempol guna me-refresh linimasa supaya terbarui dengan kicau-kicau yang baru dirilis.

Minggu, 25 Agustus 2013

Di Bandara



- Waktu jalan (denganmu), aku tidak tahu apa nasib waktu

Sayangku, kamu tahu, malam ini seharusnya jadi malam yang biasa saja buat kita berdua. Kita tidak sedang berjalan lebih jauh, ke entah berantah, seperti dikisahkan dalam irama liris milik Banda Neira. Kita juga tidak sedang berdua menuju ruang hampa seperti lagu yang Efek Rumah Kaca biasa senandungkan. Dan kita bukan pula tengah berniat menjadi sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa, sebagaimana Frau memberi nama buat lagunya yang termahsyur itu.

Sama sekali tidak.

Selasa, 30 Juli 2013

Hari Raya, Pemain Sepakbola, dan Status Facebook Mereka


Hari Raya Idul Fitri akan segera tiba, dan seluruh dunia pun tengah bersiap menyambut kedatangannya. Tak terkecuali dengan para insan sepakbola yang budiman dan rajin berdandan. Mereka —baik yang menganut ajaran Islam maupun tidak— sama-sama antusias menyambut datangnya hari akbar yang maha suci ini.

Atas nama eksistensi di dunia maya, pencitraan diri yang mumpuni, serta toleransi antar umat beragama, tak sedikit dari mereka yang mem-posting antusiasme mereka dalam menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri, melalui akun Facebook mereka. Dan berikut ini adalah beberapa status facebook terkini dari para insan sepakbola dari seluruh penjuru semesta, sebagaimana saya kutip langsung dari sumbernya, tanpa tedeng aling-aling. Check it out!

Sabtu, 27 Juli 2013

Tiga Bulan : (bukan) Sebuah Ode

Hidup memang senantiasa berubah. Ia bukalah bus Transjakarta yang melaju statis dalam lintasan koridornya yang linear. Kadang-kadang, ia berubah secara pelan-pelan, lamat-lamat, secuil barang secuil. Tapi tidak jarang juga ia berganti rupa secara mendadak, seketika, dan tiba-tiba. Jauh lebih instan daripada perubahan wujud Power Rangers, ataupun status relationship Aurel Hermansyah.

Karena itulah, teruntuk jenis transisi kehidupan yang disebut terakhir itu, saya pikir, setiap manusia yang beruntung mengalaminya, pasti bakal merasakan kegamangan yang penuh seluruh ketika menjalani pelbagai macam distorsi dan perbedaan kehidupan yang terpampang di hadapannya. Tak perlu jauh-jauh bertanya kepada kerabat maupun handai taulan perihal bagaimana rasanya bersemuka dengan hal tersebut. Sebab saya, belum lama ini mengalaminya.

***

Tiga bulan yang lalu, saya mungkin tak pernah berpikir akan berada di tempat saya berada —tempat saya mengetik tulisan ini— sekarang. Ah, jangankan memikirkan, membayangkannya pun saya tak kuasa.